Kelelawar

Koloni kalong hitam, Pteropus alecto, yang bertengger hidup secara aman di Pulau Tangkuladi. Foto: ©Adarsh Raju/AlTo

KELELAWAR: PENTING UNTUK HUTAN DAN BUAH-BUAHAN

Di seluruh dunia, kelelawar memiliki peranan yang sangat penting, setelah sebelumnya peranannya sangat kurang dihargai dalam menjaga kesehatan dan kerberlanjutan hutan-hutan asli dan sistem-sistem pertanian.  Program-program penyadar-tahuan dan lapangan AlTo yang berkaitan dengan kelelawar berupaya melindungi kalong (flying foxes) atau kelelawar buah-buahan (fruit bats) dan kelelawar pemakan serangga (insectivorous bats) di tempat-tempat dimana mereka hidup, sambil juga membantu masyarakat memahami jasa tak ternilai dari kelelawar-kelelawar tersebut, dalam melayani manusia dan makhluk hidup lainnya, baik binatang maupun tumbuhan, yang ada di Tompotika–semua secara gratis!  

 

MELINDUNGI KELELAWAR DIMANA  MEREKA HIDUP

Wilayah Tompotika merupakan sebuah pusat yang penting untuk keanekaragaman kelelawar.  Pulau Sulawesi, dimana Tompotika merupakan sebuah bagian darinya, memiliki lebih dari 70 spesis kelelawar, dimana banyak dari mereka adalah endemik –yaitu, tidak ditemukan di bagian lain di dunia.  Tompotika juga kaya dengan formasi-formasi gua gamping (karst) yang langka, yang menjadi habitat untuk koloni-koloni kelelawar yang bertengger di langit-langit gua. 

Program kelelawar AlTo berpusat pada perlindungan Pulau Tangkuladi, rumah tengger sepanjang siang hari untuk puluhan ribu kalong.  Tangkuladi, pulau tidak berpenghuni seluas 7 hektar (70.000 m2) di seberang pantai Desa Taima, dimiliki oleh 10 penduduk desa secara pribadi, namun telah dilindungi dengan sebuah perjanjian sewa tanah untuk tujuan konservasi sejak tahun 2014. Perjanjian sewa tanah tersebut mendasari kegiatan kolaboratif antara AlTo dan masyarakat Desa Taima. Juga pada tahun 2014, pulau tersebut telah dideklarasikan secara resmi sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah  (KKPD), atau wilayah perairan lokal yang dilindungi, oleh Pemerintah Daerah setempat.  

Kelelawar-kelelawar Tangkuladi mencakup Kalong Sulawesi  (Acerodon celebensis), yang endemik Sulawesi, dua sub-spesis dari Kalong Hitam (Pteropus alecto), dan beberapa spesis lebih kecil lainnya, dengan jumlah keseluruhan dari semua spesis yang ada mencapai puluhan ribu individu kelelawar.  Kelelawar-kelelawar ini sungguh terancam: meskipun hanya sedikit penduduk setempat yang mengkonsumsi kelelawar, sebelum dilindungi oleh AlTo, para pemburu komersial terus menangkapi mereka hingga mencapai puluhan ribu ekor untuk dijual di pasar-pasar daging hewan liar di Sulawesi Utara. Kelelawar-kelelawar yang ditangkap untuk dijual di pasar-pasar daging hewan liar tersebut mengalami penderitaan luar biasa sebelum mereka mati.  Misalnya, mangsa-mangsa berjatuhan dengan metode-metode penangkapan yang jahat, yang menjerat dan menyobek sayap-sayap mereka dengan kail-kail ikan, dan ratusan ekor juga sekarat karena kepanasan dan kepadatan di dalam peti kemas saat pengangkutan di jalan.

Sebagai tambahan, kelelawar diketahui kadang-kadang membawa beberapa jenis penyakit yang, dalam kondisi pasar-pasar daging hewan liar yang jorok dan penuh stres, dapat berpindah pada manusia. Ini sudah menimbulkan penyakit zonosis mematikan seperti SARS dan COVID-19.  

Lebih jauh lagi, karena setiap induk kelelawar hanya menghasilkan satu anakan per tahun, populasi kelelawar dipastikan tidak akan mampu bertahan dari tekanan perburuan yang luar biasa, dan karena itu pula mereka menjadi prioritas perlindungan AlTo di pulau Tangkuladi.  Pada tahun 2014, AlTo dan masyarakat desa Taima sepakat bekerjasama untuk bersama-sama melindungi dan melakukan patroli di keseluruhan area pulau Tangkuldi; sejak saat itu kelelawar, penyu, dan satwa liar lainnya, yang hidup dan menjadikan pulau tersebut sebagai rumah, telah tinggal secara aman, dan terus meningkat jumlahnya.

 

TIDAK ADA KELELAWAR, TIDAK ADA DURIAN!

Kalong Sulawesi beristirahat pada siang hari di pulau yang tidak dihuni manusia

Kalong-kalong Sulawesi yang endemik, Acerodon celebensis, di Pulau Tangkuladi.  Foto: © Robin Moore/AlTo

Program penyadar-tahuan AlTo bertujuan membangun dukungan yang mampu bertahan lama dari masyarakat untuk melindungi kelelawar melalui program-program interaktip di sekolah-sekolah dan desa-desa.  Sebagian besar masyarakat tidak mengetahui, sebagai contoh, bahwa pohon-pohon dari banyak buah-buahan dan biji-bijian tropis yang disukai masyarakat, seperti manga, mete, pisang liar, alpokat, dan banyak lagi yang lainnya, sangat bergantung pada kelelawar untuk melakukan polinasi agar menghasilkan buah.  Pada kenyataannya, pohon durian, sumber dari salah satu beragam makanan lezat dan mahal di Asia Tenggara, hanya dapat menghasilkan buah apabila dipolinasi oleh kelelawar.  Tidak ada kelelawar, tidak ada durian! 

Kelelawar buah-buahan juga memainkan peranan yang sangat penting dalam menjaga hutan-hutan tropis asli Tompotika dengan mempolinasi tumbuh-tumbuhan, menyebarkan biji-bijian untuk membantu hutan-hutan tumbuh kembali, dan menyediakan pupuk organik berkualitas tinggi. 

Sebagai tambahan, kelelawar pemangsa serangga mampu mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama, misalkan nyamuk yang menjadi sumber penyebaran penyakit malaria, atau belalang yang dapat merusak tanaman padi.  Bersama-sama dengan rekanan kerjanya, AlTo telah mengembangkan berbagai bahan ajar (outreach materials) yang membantu menyebarkan pada dunia tentang pentingya–dan keajaiban!–kelelawar.

 

APA YANG DAPAT ANDA LAKUKAN

 

Anda dapat membantu dengan mendukung upaya-upaya perlindungan kelelawar oleh AlTo.

 

DONASI

Silahkan  klik disini untuk berdonasi pada AlTo untuk membantu menjaga gua-gua dan tempat-tempat bertengger kelelawar tetap aman, dan membangun dukungan masyarakat untuk perlindungan kelelawar.

 

SADARI

Berikan rasa hormat saat berkunjung ke rumah-rumah kelelawar

Tolong diingat, jika berkunjung ke gua-gua atau tempat-tempat bertengger kelelawar, berjalanlah dengan perlahan dan tidak berisik, dan hindari atau jangan mengganggu mereka, serta tidak membawa makanan atau lainnya ketika memasuki dan keluar dari gua!  Apabila Anda sebelumnya telah mengunjungi gua manapun di Amerika Utara atau lokasi-lokasi lainnya yang boleh jadi memiliki penyakit White-Nose Syndrome (WNS), tolong untuk tidak mengenakan atau membawa pakaian dan peralatan lainnya – sepatu, kamera, lampu senter, ransel punggung atau tas pinggang, dan sebagainya – yang sebelumnya telah memasuki gua-gua tersebut ke Indonesia sama sekali!  WNS merupakan sebuah penyakit yang sangat menular yang dapat membinasakan kelelawar.

 

Jangan membeli atau mengkonsumsi daging kelelawar

Sebagai tambahan, tolong jangan membeli atau mengkonsumsi daging kelelawar dari pasar-pasar daging hewan liar di Sulawesi. Kelelawar di situ sangat mungkin diambil dari populasi yang saat ini sedang menurun tajam akibat pemanenan yang tidak berkelanjutan.  Lebih jauh lagi, konsumsi daging kelelawar telah dikaitkan pada beragam penyakit pada manusia, seperti Covid-19, virus Nipa, dan penyakit-penyakit syaraf. Jadi bagaimanapun lebih aman untuk sama sekali menghindari atau tidak mengkonsumsi daging kelelawar!