Maleo

Maleo (Macrocephalon maleo) Megapode bird endemic to Sulawesi, Indonesia, digs nest and incubates eggs in hot sand, ENDANGERED

Apa Yang Kami Lakukan

Burung maleo, Macrocephalon maleo, adalah harta karun alami bagi Sulawesi, dan bagi seluruh dunia. Namun sayangnya, burung maleo yang sangat mengangumkan itu terancam punah. AlTo bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk melindungi burung maleo di tempat bertelur komunal mereka di dekat Desa Taima, wilayah Tompotika.

Tim jaga yang terdiri dari orang desa dan staf AlTo secara bahu membahu mengawasi tempat bertelur tersebut untuk memastikan bahwa burung maleo dewasa bisa bertelur tanpa gangguan, telur-telur tetap aman dari pengambilan, dan anak maleo bisa menetas secara alami, tanpa campur tangan apapun dari manusia.

Sejak kolaborasi ini dimulai pada tahun 2006, semua pengambilan telur maleo di tempat bertelur Taima ini sudah dihentikan, dan jumlah populasi burung maleo meningkat terus. Ini satu-satunya wilayah di dunia sejauh yang diketahui ini di mana jumlah burung maleo meningkat.

Burung Maleo: Terancam Punah dan Dilindungi Hukum

Burung maleo, yang sangat unik secara evolusi, adalah spesies “endemik” Sulawesi–artinya hanya ditemukan di Sulawesi, dan tidak ada di tempat lain. Dulu, burung maleo itu tersebar di mana-mana di seluruh Sulawesi. Alfred Russel Wallace, naturalis dari Inggris yang menjalajahi pulau Sulawesi pada tahun 1850-an, mengambarkan pantai Sulawesi yang “hitam dengan maleo.” Namun kini, kerusakan habitat dan pengambilan telur yang berlebih-lebihan telah menyebabkan penurunan populasi maleo yang tajam.  Sebenarnya, populasi maleo sudah menurun lebih dari 90% atau sudah betul-betul musnah di kebanyakan daerah di Sulawesi.

Burung maleo yang mudah dikenali itu juga mengambil peran yang penting dalam budaya dan tradisi Sulawesi. Bentuk maleo terlihat di mana mana di Sulawesi sebagai ciri khas Sulawesi dan simbol kebanggaan rakyat. Di wilayah Kepulauan Banggai, ada juga tradisi Tumpe yang berpusat pada telur maleo. Kepunahan burung maleo merupakan kehilangan yang sangat besar bagi warisan budaya Sulawesi. Tetapi masih ada waktu untuk mencegah malapetaka ini!

Maleo in tree above nesting colony, endemic to Sulawesi Indonesia

© Kevin Schafer/AlTo

Pengambilan Telur: Ancaman yang Membinasakan

Kini, burung maleo terdaftar dalam kategori “terancam punah” oleh IUCN (International Union for the Conservation of Nature) dan CITES Appendix I. Burung maleo juga dilindungi oleh undang-undang Indonesia secara menyeluruh. Berburu, menangkap, membunuh, atau mengganggu Burung Maleo dewasa atau telurnya dapat dikenai hukuman pidana penjara hingga 5 tahun dan didenda hingga Rp 200 juta (UU No. 5/1990).

Walaupun demikian, burung maleo masih menderita karena pengambilan telur oleh manusia. Pada umumnya, telur maleo tidak dibutuhkan sebagai kebutuhan pokok, tetapi diambil untuk dijual sebagai barang mewah atau simbol status. Walaupun pengambilan telur tersebut melanggar hukum, hukum itu jarang ditaati, sehingga populasi maleo terus menurun. Pengambilan telur oleh manusia adalah penyebab utama menurunnya populasi maleo pada saat ini, diikuti dengan kehilangan habitat burung tersebut.

Burung Yang Menakjubkan

Burung maleo mempunyai kisah hidup yang sangat unik. Burung maleo dewasa berpasangan sehidup semati, dan utamanya hidup di dalam hutan asli Sulawesi. Namun, waktu si betina sudah siap untuk bertelur, pasangan maleo itu berjalan kaki berkilo-kilo ke tempat bertelur komunal, yang biasanya terletak di pesisir pantai, atau di dekat mata air panas di dalam hutan.

Di sana, pasangan maleo itu menggali lubang yang besar di dalam pasir atau tanah selama berjam-jam. Di dalam lubang tersebut, burung maleo betina itu menelurkan satu butir telur yang sangat besar. Hanya satu! Badan burung maleo seukuran ayam, sedangkan telur maleo besarnya enam kali lipat telur ayam!

Kalau sudah bertelur di dalam lubang, pasangan maleo itu menguruk telur tersebut dengan pasir dengan kedalaman yang mencapai 1 meter. Kemudian, mereka pulang lagi ke hutan, sementara telur dibiarkan untuk dipanasi oleh matahari atau panas bumi. Kalau tidak diganggu, sesudah 60-80 hari telur itu menetas di dalam pasir. Begitu menetas, anak maleo menggali selama 24-48 jam ke atas untuk mengirup udara segar di alam bebas. Sesudah beristirahat selama beberapa menit, anak maleo langsung terbang ke arah hutan, untuk hidup secara mandiri tanpa bantuan induknya.

two Maleos on beach nesting ground

© Scott Newell/AlTo

Upaya Konservasi Maleo AlTo

Upaya perlindungan burung maleo di tempat bertelur maleo di dekat Desa Taima, Kab. Bualemo dimulai pada tahun 2006. Sebelumnya perlindungan itu, bisa dikatakan hampir semua telur maleo yang ada sudah diambil oleh orang.

Namun, pada tanggal 1 Agustus 2006, sebuah upaya gabungan dibentuk untuk melancarkan konservasi burng maleo yang baru. Koalisi tersebut terdiri dari warga Desa Taima, MAPALA Iguana Tompotika, Yayasan Pemerhati Lingkungan yang berpusat di Luwuk, pihak pemerintah Kab. Banggai, beberapa ahli konservasi Indonesia dan internasional, serta sebuah rombongan pengunjung internasional. Upaya konservasi itu dimulai dengan masa percobaan 6 bulan. Selama periode itu, semua pihak sepakat bahwa pengambilan telur di tempat bertelur maleo tersebut harus dihentikan.

Percobaan ternyata sukses besar, sehingga kegiatan konservasi maleo di Taima berlanjut terus. Sementara itu,  koalisi tersebut berkembang menjadi kemitraan resmi antara masyarakat Taima, BKSDA Sulawesi Tengah, dan Yayasan AlTo. Turunnya populasi maleo di sana sudah berhasil diperbaiki, dan sejak tahun 2006 jumlah burung maleo di sana meningkat terus. Sebetulnya, proyek perlindungan maleo di Taima adalah satu-satunya proyek pelestarian maleo, di dunia, yang berhasil membuktikan peningkatan populasi maleo setempat.

Upaya konservasi burung maleo AlTo sudah berkembang, termasuk Kampanye Konservasi Burung Maleo yang tersebarluas, serta beberapa kegiatan lapangan lain.

1 Agustus 2006: aliansi yang baru terbentuk meluncarkan proyek pelestarian maleo di desa Taima

1 Agustus 2006: aliansi yang baru terbentuk meluncarkan proyek pelestarian maleo di desa Taima

 

Manfaat Bagi Masyarakat

Lapangan Pekerjaan dan Manfaat Nyata Lainnya

Tugas menjaga tempat bertelur maleo Taima digilir antara orang-orang desa Taima, yang bekerja sama dengan staf AlTo. Pendapatan dari pekerjaan itu membantu banyak keluarga setempat.

Lebih dari itu, sebagai bentuk “ucapan terima kasih” dari masyarakat internasional kepada masyarakat Desa Taima atas komitmen mereka pada pelestarian maleo, AlTo membantu penyediaan beberapa barang kebutuhankepada masyarakat Taima. Barang-barang tersebut termasuk di antaranya kaca mata, bahan bangunan atau bantuan perbaikan untuk bangunan umum, dan lain-lain. Baru-baru ini, AlTo memulai proyek yang komprehensif untuk mengadakan air bersih kepada seluruh penduduk Desa Taima, banyak yang diantaranya dulu mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Burung Maleo – Kebangaan Wilayah Tompotika

Kesuksesan proyek pelestarian burung maleo bukan hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menghidupkan rasa bangga dan kepuasan bagi masyarakat Desa Taima. Waktu Desa Taima diberi “The Maleo Award” (Penghargaan Maleo) dari komunitas konservasi internasional pada tahun 2010, masyarakat Desa Taima terlebih-lebih menjadi bangga.

Maleo sitting in sand depression

© Kevin Schafer/AlTo

Apa Yang Bisa Anda Lakukan

Anda bisa membantu upaya konservasi maleo AlTo.

Menyumbang

Silakan klik di sini untuk menyumbangkan dana untuk membantu biaya penjagaan dan memastikan bahwa jumlah burung maleo bisa tetap meningkat di Taima. Taima merupakan satu-satunya lokasi di dunia di mana peningkatan itu terjadi.

Berkunjung

Mungkin Anda tertarik untuk bergabung dengan salah satu Tur Layanan Lingkungan AlTo. Tur tersebut mengabungkan acara kunjungan ke tempat bertelur maleo dengan satu proyek layanan lingkungan. Setiap kali, tema layanan lingkungan itu bervariasi.

Atau, mungkin Anda mau mengunjungi tempat bertelur maleo sendiri. Karena lokasi itu agak jauh dan sepi, kami mengusulkan Anda meminta bantuan dari pemandu, seperti Malia Tours.

Waktu Anda melihat burung maleo, ingatlah bahwa burung maleo adalah binatang yang sangat langka dan istimewa. Pastikan Anda menjaga jarak, dan jangan ganggu mereka.

protective Maleo, wings raised

© Kevin Schafer/AlTo

Waspada!

Ingatlah: kalau suatu hari Anda menemukan telur maleo yang dijual, jangan beli atau makan telur itu! Dan juga, jangan coba memelihara burung maleo dewasa di dalam kandang–biasanya mereka akan mati. Pengambilan, pembelian, atau perdagangan telur atau produk maleo dilarang oleh hukum Indonesia, dan pelanggar dapat dikenai denda yang berat atau pidana penjara. Membawa produk maleo ke luar negeri juga dilarang.

Selamatkan Maleo!

  • Jangan mengambil, membeli atau makan telur maleo
  • Lestarikan hutan alami, yang diperlukan sebagai rumah burung maleo
  • Biarkan maleo hidup di alam bebas

Hidup Maleo!