Pekerjaan Kami: Maleo

Three maleos on beach nesting ground.

©Riza Marlon/AlTo

Apa yang Kami Kerjakan

Ikonik, namun terancam punah, burung Maleo (Macrocephalon maleo) adalah sebuah harta karun alami bagi Sulawesi, dan bagi seluruh dunia. Bekerja sama dengan para penduduk desa setempat, AlTo melindungi Maleo di tiga lokasi dalam tataran Tompotika: Kaumosongi yang berdekatan dengan Desa Toweer dan Teku; Panganian yang berdekatan dengan Desa Pangkalaseang; dan Libuun yang berdekatan dengan Desa Taima, dimana lebih banyak Maleo saat ini bersarang daripada tempat lain manapun di dunia.

Bekerja bahu-membahu, tim penduduk desa dan stap AlTo menjaga tempat bertelur komunal Maleo dari waktu ke waktu, memastikan betina-betina dewasa dapat menempatkan telur-telur dengan damai, telur-telur aman dari pengambilan manusia, dan anakan-anakan dapat tumbuh tanpa terganggu di lingkungan alami mereka. Pendekatan AlTo berpusat pada melindungi sarang tempat bertelur Maleo dan habitat hutan alaminya, yang memungkinkan telur-telur dapat menetas di dalam sarangnya secara alami, tanpa penetas buatan, bantuan inkubator, atau bentuk campur tangan manusia lainnya.

Sejak 2006, ketika untuk pertama kalinya para penduduk desa meminta bantuan AlTo untuk mencegah kepunahan Maleo, praktek pengambilan telur di tempat-tempat yang dilindungi telah dihentikan, membuka jalan untuk peningkatan jumlah Maleo secara stabil. Sayangnya, keberadaan burung ini terus semakin langka di tempat-tempat lain di Sulawesi. Namun, melalui penghentian pengambilan telur yang difasilitasi oleh kerja sama tim penduduk desa dan AlTo, saat ini populasi Maleo di tempat-tempat yang dilindungi di wilayah Tompotika sedang pulih; di Libuun, Taima jumlah Maleo telah mencapai empat kali lipat daripada ketika proyek dimulai. Pada saat bersamaan, AlTo juga bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat dan para penduduk desa untuk melindungi habitat hutan yang tidak kalah penting, yaitu habitat hutan yang menghubungkan dan menjaga Maleo tetap aman ketika pergi ke dan keluar dari tempat bertelur.

Thanks to AlTo’s conservation efforts, maleos have recovered, and more than 100 birds have been seen at once at the Libuun nesting ground. ©Adrianus Bawotong/AlTo

Maleo: Terancam Punah dan Dilindungi oleh Hukum

Maleo yang secara evolusioner unik hanya ditemukan di Pulau Sulawesi, Indonesia, dan pernah sangat umum dapat dilihat di pulau ini.  Penyelidik dan penjelajah alam berkebangsaan Inggris, Alfred Russel Wallace, menulis pada tahun 1860-an, menggambarkan pantai-pantai Sulawesi berwarna “hitam” oleh kehadiran ratusan Maleo.  Namun, dewasa ini pengrusakan habitat dan pengambilan telur secara berlebihan oleh manusia telah mengantarkan Maleo pada penurunan jumlah yang sangat tajam.  Fakta menunjukkan, jumlah Maleo telah menurun drastis, lebih dari 90% dan bahkan telah sepenuhnya lenyap di banyak tempat di Sulawesi.

 

Perburuan Telur: Ancaman yang Membunuh

Maleo saat ini dicantumkan sebagai “terancam punah” (“Endangered”) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN) dan sepenuhnya dilindungi di bawah hukum Indonesia dan CITES Appendix I.  Melanggar hukum apabila membunuh, mengambil, mengganggu, menangkap, mengkandangkan, atau memperdagangkan telur, barang olahan, atau burung Maleo hidup.  Meskipun demikian, hukum yang melindungi Maleo jarang ditegakkan, dan burung ini masih mengalami tekanan luar biasa akibat pengambilan telaur.  Telur-telur Maleo umumnya tidak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar, melainkan terus diambil untuk diperdagangkan sebagai status sosial atau barang mewah.  Diikuti oleh kehilangan habitat, pengambilan telur merupakan ancaman nomor satu terhadap populasi Maleo saat ini.

On and off the nesting ground, maleos are usually found in pairs. ©Noval Suling/AlTo

Seekor Burung yang Luar Biasa

Maleo memiliki cara hidup yang unik.  Maleo dewasa biasanya ditemukan berpasangan, dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka di hutan hujan asli Sulawesi.  Namun, saat mereka siap, pasangan Maleo jantan dan betina akan berjalan bersama hingga berkilo-kilo meter menuju suatu tempat bertelur bersama, biasanya di pesisir pantai atau suatu tempat yang berdekatan dengan sumber air panas.

Di sana, pasangan Maleo akan menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk menggali sebuah lubang besar, dimana yang betina akan menempatkan satu butir saja, telur berukuran besar.  Besar burung Maleo sekitar besar ayam lokal, namun ukuran telur Maleo sekitar enam kali lipat ukuran telur ayam!

Setelah menempatkan telurnya, pasangan Maleo akan menguburnya kembali sedalam sekitar satu meter.  Kemudian mereka pulang ke hutan, rumah mereka, meninggalkan telur untuk diinkubasi oleh pasir dengan panas matahari atau panas dari sumber air panas bumi.  Jika dibiarkan tidak terganggu, sekitar 60-80 hari kemudian telur akan menetas dan anakan akan menggali jalannya untuk keluar dari dalam lubang tanah menuju ke permukaan bumi.  Setelah beristirahat sejenak, anakan akan terbang menuju ke dalam hutan untuk sepenuhnya menemukan sendiri jalan hidupnya, tanpa pengasuhan induk sama sekali!

A maleo defends its nesting territory. ©Kevin Schafer/AlTo

Upaya Konservasi Maleo oleh AlTo

AlTo memulai upaya-upaya perlindungan Maleo pada 2006, setelah para penduduk setempat di desa Taima meminta bantuan internasional untuk mencegah lenyapnya Maleo mereka yang ikonik di tempat bertelur di Libuun.  Pada waktu itu, hampir setiap telur Maleo diambil oleh para pemburu.

Demikianlah Aliansi Konservasi Tompotika — AlTo — dilahirkan:  Sebuah kelompok kecil beranggotakan para profesional konservasi Indonesia dan internasional yang bergabung bersama dengan para pakar lingkungan, penduduk desa, dan pegawai pemerintah daerah setempat untuk meluncurkan sebuah percobaan kerjasama di bidang konservasi berbasis masyarakat. Upaya konservasi itu dimulai dengan masa percobaan 6 bulan. Selama periode itu, semua pihak sepakat bahwa pengambilan telur di tempat bertelur maleo tersebut harus dihentikan. Percobaan ternyata sukses besar, sehingga kegiatan konservasi maleo di Taima berlanjut terus. Sehingga, sekarang, dengan restu dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), agensi satwaliar milik Pemerintah Indonesia, AlTo telah diminta untuk bekerja sama dengan lebih banyak desa, dan model yang digunakan di Libuun telah diperluas penerapannya ke berbagai tempat bertelur Maleo lainnya di wilayah Tompotika dan di luarnya.

Upaya-upaya konservasi Maleo oleh AlTo juga telah diperluas dengan melibatkan beragam cara Kampanye Kesadaran Konservasi dan berbagai kegiatan lapangan lainnya.

August 1, 2006: a new alliance launches the maleo conservation project in Libuun-Taima. ©AlTo

Manfaat untuk Masyarakat

Lapangan Kerja dan Manfaat Nyata lainnya

Tugas menjaga di tempat bertelur Maleo diberikan secara bergilir pada para penduduk desa, melibatkan dan mendukung banyak keluarga dengan upah yang dibayar.

Sebagai tambahan, sebagai bentuk ucapan “terimakasih” dari komunitas konservasi internasional untuk para penduduk desa yang telah berkomitmen untuk melindungi Maleo, AlTo memastikan bahwa para penduduk di desa-desa kerjasama menerima manfaat berbasis masyarakat. Manfaat tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat secara bersama-sama, misalnya bantuan kacamata baca, perbaikan bangunan umum seperti masjid, perbaikan peralatan pengelolaan sampah, dan pemenuhan berbagai kebutuhan lain yang diidentifikasi dan diusulkan oleh para penduduk setempat sendiri.

Burung Maleo — Kebanggaan Tompotika

Namun bukan hanya manfaat ekonomi dari kehadiran Maleo yang masyarakat Tompotika nilai.  Para penduduk di wilayah Tompotika juga mengungkapkan, sangat mengakui kesejahteraan dan kebanggaan dalam melindungi Maleo.  Pengakuan ini semakin diperkuat ketika pada 2010, Taima menerima “Penghargaan Maleo” dari komunitas konservasi internasional.  Dan di Desa Toweer/Teku pada 2019, para penduduk desa menunjukkan kebanggaan mereka dalam upaya-upaya konservasi yang mereka lakukan dengan mengajukan permohonan, sebagai suatu “kebutuhan” prioritas publik, sebuah patung Maleo raksasa untuk dibangun di desa mereka.

School kids love the maleo. ©Noval Suling/AlTo

Apa yang Dapat Anda Lakukan

Anda dapat membantu mendukung upaya-upaya konservasi Maleo oleh AlTo.

Donasi

Silahkan klik disini untuk donasi yang akan sangat membantu dalam memenuhi biaya penjagaan oleh tim para penduduk desa dan stap AlTo, dan terus meningkatkan jumlah Maleo.

Kunjungan

Maleo adalah burung yang sangat pemalu dan sensitip, sehingga kebanyakan lokasi yang AlTo kelola tidak dibuka untuk umum.  Meskipun demikian, tempat bertelur Maleo di Libuun, Taima merupakan lokasi yang sangat baik untuk menyaksikan ritual bertelur dan perilaku lain burung ini, dan dibuka untuk umum dengan pengaturan kunjungan lebih awal.  Lebih terperinci untuk mengunjungi lokasi, klik disini.

©Pandji Kresno/AlTo

 

Bagi mereka yang melakukan perjalanan ke lokasi dari luar Indonesia, harap disadari bahwa lokasi ini terletak di wilayah yang relatip terisolasi dan sulit dijangkau.  Kami merekomendasikan Anda untuk menggunakan jasa pemandu lokal, seperti Malia Tours. Mohon diperhatikan agar Anda dapat menyaksikan Maleo liar di lokasi kami dengan penuh rasa hormat, menjaga jarak yang telah ditentukan, dan tidak mengganggu mereka.

Dan harap diingat ketika berada di Indonesia: Jika Anda kebetulan menemukan telur-telur Maleo diperjual-belikan, jangan pernah membeli atau mengkonsumsinya!  Mengambil, membeli, atau memperdagangkan telur-telur Maleo atau barang-barang olahan dari burung ini dilarang oleh hukum Indonesia, dan para pelanggar akan dikenai denda dalam jumlah besar atau dipenjarakan.  Membawa barang-barang olahan Maleo keluar dari Indonesia juga sangat dilarang.

Meskipun demikian, silahkan menikmati dan merayakan Maleo yang ikonik dan secara evolusioner juga unik, kebanggaan Sulawesi dan Tompotika, dimana — terimakasih pada kemitraan antara masyarakat lokal dengan AlTo – Maleo yang terancam punah ini sekarang sedang pulih.