Penyu

TURTLE.Pandji.DSCN2059

Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat

Secara bahu membahu, AlTo bekerja sama dengan masyarakat setempat di dua lokasi untuk melakukan patroli pantai serta melindungi sarang penyu. Kedua lokasi tersebut adalah beberapa tempat bertelur yang paling bagus di wilayah Tompotika–yaitu, pantai-pantai sekitar Desa Teku/Toweer, Kab. Balantak Utara, dan Desa Taima, Kab. Bualemo.

Ada tiga spesies penyu yang bertelur di wilayah Tompotika, yaitu Penyu Hijau, Chelonia mydas, Penyu Lekang, Lepidochelys olivacea, dan Penyu Sisik, Eretmochelys imbricata. Dulu, ada spesies yang keempat, Penyu Belimbing Dermochelys coriacea, yang juga bertelur di wilayah ini. Namun sayangnya, sejak kurang-lebih satu dekade yang lalu, Penyu Belimbing sudah punah di wilayah Tompotika.

Sudah Dilindungi Hukum Indonesia–Sekarang Sudah Benar-benar Mulai

Penyu sudah terancam punah di seluruh dunia. Semua spesies penyu telah dilindungi undang-undang Indonesia secara menyeluruh sejak tahun 1990. Namun, undang-undang ini jarang diterapkan, sehingga pengambilan penyu dewasa dan telurnya sudah umum dan merajalela di wilayah Tompotika, seperti layaknya di hampir seluruh Indonesia.

turtle eggs

© Sergieiev/AlTo

Memang, penyu menghadapi ancaman-ancaman lain juga–misalnya penangkapan yang tidak sengaja oeh nelayan, sampah plastik laut, pembangunan pantai yang tidak sesuai, dan perubahan iklim.

Tetapi, di wilayah ini, pengambilan penyu dewasa dan telurnya adalah ancaman yang membinasakan yang mengakibatkan penurunan populasi penyu secara drastis. Untungnya, sekarang ada perubahan: dengan bantuan AlTo, warga Tompotika telah menjalankan upaya-upaya untuk melindungi penyu yang masih ada, jangan sampai mereka juga musnah seperti penyu Belimbing beberapa tahun yang lalu.

Program penyu AlTo memakai pendekatan “akar rumput” untuk menghentikan pengambilan penyu dan mengalang dukungan masyarakat mengenai pelestarian penyu:

  • Patroli Pantai Penyu – Staf AlTo berpasangan dengan orang setempat untuk melakukan patroli pantai di mana penyu bertelur setiap malam selama musim bertelur (bulan Februari – bulan Agustus). Dengan patroli tersebut, tim penjaga itu melindungi penyu betina dan sarangnya dari pengambil.
  • Perlindungan Sarang – Kalau sebuah sarang tidak bisa dilindungi secara baik in situ di pantai, sarang itu akan dipindahkan ke tempat yang aman di mana telurnya bisa dijaga oleh orang desa sampai menetas. Tugas ini bermanfaat bagi orang desa melalui pembayaran gaji dan pelajaran ketrampilan yang baru. Waktu telur menetas, tukik penyu langsung dilepaskan supaya mereka bisa melaksanakan ritual yang sudah berjalan lebih dari 100 juta tahun: menyeberang pantai dan menuju ke laut terbuka secara mandiri.
Tukik penyu yang baru menetas akan dilepaskan dengan hati-hati di pantai.

Tukik penyu yang baru menetas akan dilepaskan dengan hati-hati di pantai. (© Noval Suling/AlTo)

  •  Kesadaran Umum – Sejak tahun 2008, AlTo telah menjalankan program Kampanye Kesadaran Konservasi Penyu di semua sekolah dan desa di wilayah Tompotika. Sejak itu, staf AlTo telah membawa pesan konservasi setidaknya satu kali ke setiap sekolah di lebih dari 100 sekolah di wilayah Tompotika.
  • Outreach Penerapan Hukum – Bersama dengan BKSDA Sulawesi Tengah, mulai pada tahun 2012 AlTo telah mensponsori program outreach khusus kepada pihak penerapan dan penegakan hukum. Program itu mempunyai fokus utama pada penerapan dan penegakan hukum-hukum yang melindungi penyu dan melarang perdagangan produk penyu. Dengan program ini, pihak penerapan hukum setempat mengembangkan ilmu, alat, dan prosedur yang baru untuk menghindari pelanggaran hukum-hukum terhadap satwa liar.

Menuju Perbaikan Dengan Sabar

Penyu laut cenderung melakukan segalanya dengan lambat. Mereka sudah berenang di samudra dunia selama lebih dari 100 juta tahun! Dan juga, tergantung pada spesiesnya, tukik penyu memerlukan 15-30 tahun untuk menjadi penyu dewasa. Maka, populasi penyu tidak bisa berkembang dengan cepat. Selain itu, supaya penyu menjadi aman dari ancaman konsumsi dan perdagangan oleh manusia, dibutuhkan perubahan kelakuan dan kebudayaan. Perubahan seperti itu memerlukan waktu.

AlTo mempunyai komitmen jangka panjang. Sampai sekarang, AlTo sudah melindungi ratusan penyu dewasa dan puluhan ribu telur dari pengambilan. Pasti AlTo akan terus bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk memastikan bahwa populasi penyu yang sehat akan memenuhi perairan Tompotika dan bertelur di pantai-pantai Tompotika terus-menurus selama generasi yang mendatang.

Seni oleh Sandra Noel

Seni oleh Sandra Noel

Apa Yang Bisa Anda Lakukan 

Anda bisa membantu upaya konservasi penyu AlTo.

Menyumbang

Silakan klik di sini untuk menyumbangkan dana untuk membantu biaya patroli pantai bertelur, melindungi sarang penyu, pelatihan orang desa, dan mendukung penerapan hukum.

Waspada!

Jangan membeli produk-produk penyu

Ingatlah, di Indonesia atau di mana pun: kalau Anda menemukan telur, daging, atau produk penyu lain (seperti perhiasan yang dibuat dari sisik penyu) yang dijual, jangan membeli atau mengkonsumsi produk tersebut!

Pengambilan, pembelian, atau perdagangan semua produk penyu melanggar undang-undang Indonesia dan internasional. Pelanggar dapat dikenai sanksi termasuk denda hingga Rp 200 juta atau hukuman penjara hingga 5 tahun. Lebih dari itu, perdagangan seperti inilah yang menyebabkan eksploitasi penyu yang berlebih-lebihan di Indonesia saat ini, dan memaksa penyu menuju kepunahan.

Buang Sampah Pada Tempatnya

Sampah Anda–apalagi sampah plastik–bisa berakhir di laut kalau tidak dibuang secara benar, dan di sana sampah itu merusak lingkungan lautan dan menyakiti satwa liar. Setiap tahun, ribuan ekor penyu mati terjerat sampah plastik, atau tidak sengaja menelan kantong plastik, yang dikira ubur-ubur. Tolong, kurangi pengunaan plastik sebisa-bisanya, dan pastikan bahwa semua sampah Anda dibuang secara benar atau didaur ulang.

© Pandji Kresno/AlTo

© Pandji Kresno/AlTo

Kasihilah Penyu Yang Bertelur

Waktu mengunjungi pantai bertelur penyu, ingatlah: Anda betul-betul menapak di atas telur!

Pada siang hari, tolong tapak secara hati-hati, dan jangan menganggu sarang yang sudah diuruk di dalam pasir. Pada malam hari, matikan lampu sebisa-bisanya, dan jangan dekati induk penyu yang naik bertelur. Bahkan gangguan yang sekecil apapun bisa menyebabkan induk penyu batal bertelur.

Anda baru boleh mendekati induk penyu secara diam-diam dan pelan-pelan hanya kalau induk itu sudah selesai menggali dan proses peneluran sudah dimulai sehingga induk itu sudah betul-betul “entranced”. Selalu jaga jarak, bergerak pelan-pelan, redupkan lampu, dan jangan ribut.

Kalau Anda beruntung bisa menyaksikan penetasan sarang penyu, jangan nyalakan lampu sama sekali, dan jangan campur tangan untuk membawakan tukik ke laut. Orientasi terhadap lingkungan mereka di kemudian hari bergantung pada kesempatan ini untuk menyeberangi pantai kelahiran mereka secara mandiri. Kalau mereka tidak bisa mengenali pantai kelahiran mereka ini, mereka tidak akan bisa kembali untuk bertelur nantinya.