Seni bagi Konservasi

ART.BackAugust

Seni:  Penyalur Pesan Positip Konservasi

Seni menginspirasi semangat.  Seni mengungkapkan ide baru.  Seni mendukung kemajuan.  Selain itu, seni dapat menyalurkan pesan positip konservasi.  Di dunia ini, konservasi kadang nampak seperti memiliki lebih banyak pesan negatif dan kata “jangan”.  Sebagai contoh: “Jangan mengambil telur Maleo!”, “Jangan menebang hutan!”, atau “Jangan mencemari Lautan!”.  Meskipun demikian, program-program Seni untuk Konservasi milik AlTo membantu mengingatkan kita, bahwa kehidupan ini memiliki lebih banyak hal positif, di dalam mana kita memang diajak untuk melakukannya.  Mari kita ibaratkan seperti berikut:  Ketika mendengar suara hujan deras di hutan, mari kita bernyanyi seirama dengan suara percikan air hujan! Ketika melihat kecantikan matahari tenggelam, mari kita melukiskannya di buku sketsa!  Ketika menyaksikan keanggunan gerakan Maleo, mari kita ciptakan tarian yang menggambarkannya!

Di dalam misi AlTo untuk mengubah pikiran, hati, dan perilaku manusia, Seni menyediakan kendaraan yang sangat kuat untuk menyoroti dan merayakan hal-hal yang kita cintai, dan ingin kita dorong, lindungi, dan pelihara.

Festival

Diselenggarakan setiap dua tahun, Festival Internasional Maleo dan Penyu Tompotika oleh AlTo merupakan sebuah pertunjukan drama, musik, permainan fisik, dan semangat komunitas – semua bertema konservasi – selama tiga minggu.  Pada minggu pertama, satu kelompok yang terdiri atas 12 -15 siswa berprestasi dari berbagai Sekolah Lanjutan Tengah Atas (SLTA) di wilayah Tompotika berkumpul bersama untuk menciptakan sebuah drama orisinil; drama-drama yang pernah ditampilkan meliputi Maleo dan Penyu, kelapa sawit, kelebihan populasi manusia, dan sebuah adaptasi dari karya Dr. Seuss, The Lorax.

©Noval Suling/AlTo

 

Pada minggu kedua dan ketiga, para siswa tersebut, bersama-sama dengan stap dan relawan AlTo berpindah-pindah tempat ke 5-7 desa berbeda di wilayah Tompotika. Melalui  perjalanan panjang ini, mereka membawa drama — dan sejumlah kegiatan bertema konservasi lainnya yang dikemas secara menyenangkan — agar dapat ditampilkan seharian penuh di desa berikutnya.

 

©Keith Brofsky/AlTo

 

Melalui Festival AlTo yang diselenggarakan seharian penuh di setiap desa menampilkan beragam permainan, bilik foto, pameran, lokakarya, aktivitas seni, pertunjukan musik, dan pementasan drama, dimana  semua orang diundang untuk berpartisipasi. Bapak-bapak yang duduk di atas motor, ibu-ibu yang membawa bayi di dalam gendongan, kakek-nenek yang menonton di bawah tenda, dan anak-anak dari berbagai usia – semua berkumpul bersama menikmati, belajar tentang, dan merayakan warisan alam mereka sendiri yang sangat berharga. Semua itu sama sekali tidak dipungut biaya. 

 

©Keith Brofsky/AlTo

 

Festival, sebuah cara yang efektip dan populer untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan terhadap penanganan masalah konservasi, telah menjadi sebuah tradisi favorit di Tompotika sejak 2014.

 

©Titayanto Pieter/AlTo

©Adrianus Bawotong/AlTo

 

Untuk menonton video Festival AlTo, klik disini.

©Keith Brofsky/AlTo

 

Lebih banyak mengenai Festival dan Jackustik tertentu, lihat kalawarta AlTo: May 2020, April 2018, Maret 2017, Maret 2015, and Juni 2014.

 

Tompotika high school kids perform their conservation drama at Festival. Says drama coach Nick Fury: “Theater has a way of touching people. They remember the villains, the heroes. The story sticks with them and creates a strong impression.” ©Keith Brofsky/AlTo

Jackustik:  Musik untuk Konservasi

©Noval Suling/AlTo

Dinamai untuk mengenang seorang anggota Dewan Pembina AlTo yang telah tiada, musisi, dan pakar konservasi yang sangat dihormati Dr. Jack Barbash, lomba Jackustik: Musik untuk Konservasi menginspirasi para musisi Tompotika untuk mengkomposisi dan menampilkan musik orisinil bertemakan konservasi.

Dari sebuah band beranggotakan empat siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP), ke sebuah paduan suara beranggotakan dua puluh siswa-siswi Sekolah Dasar (SD), hingga seorang gitaris tunggal yang menyayat hati, Jackustik telah menfasilitasi pengkomposisian lusinan lagu baru dan orisinil bertemakan konservasi. Banyak diantara lagu ini terus ditampilkan di dan digulirkan ke daerah lain jauh dan lama setelah setiap lomba Jackustik selesai, terus mengumandangkan dan menginspirasi etika konservasi untuk hari esok dan mendatang.

Untuk mendengarkan contoh-contoh musik melalui video lomba Jackustik sebelumnya, klik disini.

©Acca/AlTo

Proyek-proyek Seni untuk Konservasi Lainnya

AlTo meyakini kekuatan Seni untuk membawa perubahan.  Proyek-proyek Seni untuk Konservasi AlTo lainnya meliputi:

  • Proyek Lukisan Dinding Satwa Liar, di dalam mana satu kelompok beranggotakan para relawan internasional berkerjasama dengan para penduduk desa menciptakan lukisan dinding cantik pada dinding-dinding sekolah di dua desa (baca tentang ini disini).

©Mark Kinney/AlTo

©Mark Kinney/AlTo

©Mark Kinney/AlTo

 

  • Proyek Kalender Pemuda/i, di dalam mana selusin artis siswa/i SLTA yang berbakat dari berbagai wilayah Tompotika berpartisipasi dalam suatu lokakarya selama sembilan hari yg diselenggarakan oleh seorang artis profesional di bidang satwa liar, Sandra Noel yang mengajarkan bagaimana menggambar dan mewarnai lukisan alam; hasil proyek ini dituangkan menjadi Kalender 2010 (baca tentang ini disini).
 

©Artists, Left to Right: Rifa’i Mashudi, age 17; Krisno Dohal, age 17/AlTo

©Marcy Summers/AlTo

  • … dan masih banyak proyek-proyek kecil lainnya — beberapa melibatkan artis-artis tamu — bersama-sama dengan anak-anak dan orang-orang dewasa dari berbagai sekolah dan desa.

 

Anda dapat membantu merayakan alam yang kita cintai, dan mendukung konservasi melalui Seni dengan melakukan donasi pada AlTo. Terima kasih!

©Artist: Agus Mertha, age 16/AlTo